Demi Keadilan, Kejati Sulbar Kembali Lakukan Restorative Justice

- Jurnalis

Senin, 31 Januari 2022 - 08:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kajati Sulbar Didik Istiyanta berama Aspidum Baharuddin serta Penkum Kejati Sulbar Amiruddin, melaksanakan Restorative Justice. ( Foto. Anto )

Kajati Sulbar Didik Istiyanta berama Aspidum Baharuddin serta Penkum Kejati Sulbar Amiruddin, melaksanakan Restorative Justice. ( Foto. Anto )

indigo99.com | Kejati Sulawesi Barat ( Sulbar ), kembali melakukan penghentian penuntutan atau Restorative Justice ( RJ ) terhadap perkara penganiayaan oleh tersangka Diana alias Mama Abang ( 40 ). Dengan korban, Agustina alias Mama Anti, 50 tahun Desa Parondo Bulawan Kecamatan Tanduk Kalua Kabupaten Mamasa.

Diketahui Restorative Justice dilakukan berdasarkan keadilan restoratif oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Barat, Didik Istiyanta, bersama dengan Aspidum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Barat, baharuddin serta Kepala Kejaksaan Negeri ( Kejari ) Mamasa Kusuma Jaya Bulo bersama jajarannya. Dan Restorative Justice telah disetujui Jampidum Cq. Direktur Oharda Gerry Yazid.

Kasi Penerangan hukum ( Penkum ) Kejati Sulbar, Amiruddin kepada indigo99.com mengatakan, bahwa selama ini sudah ada 15 perkara yang berhasil di Restorative Justice dan perkara penganiayaan ini sudah masuk ke 15. Ini satu bentuk keberhasilan Kejati Sulbar menangani perkara tanpa melalui penuntutan di meja pengadilan.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

” Ini termasuk capain Kejati Sulbar selama ini yang mampu RJ 15 perkara tanpa melalui penuntutan di meja pengadilan, ” kata Amiruddin. Senin ( 31/1 )

Baca Juga :  Komisioner KPU Imat Totori : Masa Tenang Besok Tidak Ada Lagi APK

Amiruddin menyebutkan, hasil yang telah dicapai. Tersangka dan korban menyetujui upaya perdamaian dan proses perdamaian yang ditawarkan jaksa penuntut umum atau fasilitator, dan sepakat untuk melaksanakan proses perdamaian pada hari Senin tanggal 24 Januari 2022, bertempat di Aula Kantor Kejaksaan Negeri Mamasa.

Dan poin-poin kesepakatan perdamaian yang telah disepakati oleh tersangka dan korban antara lain adalah tersangka ( Pihak I ) telah meminta maaf kepada korban dan telah mengakui serta merasa bersalah atas perbuatannya kepada korban dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya di masa yang akan datang tersebut telah diucapkan di depan korban dan di depan para pihak dan Korban ( Pihak II ) telah memaafkan tersangka ( Pihak I ).

Antara korban dan tersangka sepakat menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan melalui jalur non litigasi tanpa ada unsur paksaan atau tekanan dari pihak manapun dan korban tidak keberatan apabila perkara ini dihentikan pada tahap Penuntutan.

Sehingga melalui restorative justice, diharapkan terjalin kembali kerukunan antar keluarga, khususnya antara tersangka dan korban yang masih memiliki hubungan keluarga dan diharapkan dapat memulihkan keadaan semula seperti sebelum adanya perkara.

Baca Juga :  Kecewa, Mahasiswa Universitas Wallecea Mamuju Segel Kampus

” Bahwa proses penuntutan perkara tindak pidana penganiayaan atas nama tersangka Diana alias Mama Abang, dapat dihentikan berdasarkan prinsip Keadilan Restoratif. Selanjutnya akan diterbitkan surat ketetapan penghentian penuntutan ( SKP2 ) oleh Kepala Kejaksaan Negeri Mamasa dan diserahkan kepada tersangka atau korban.” jelasnya

Seperti diketahui, Kamis 4 November 2021, tersangka Diana mendatangi korban Agustina untuk mengambil sebuah handphone yang dijadikan jaminan pengembalian KTP anak korban yang digunakan tersangka untuk meminjam uang di Koperasi, namun tidak diberikan korban sehingga tersangka langsung dengan menarik rambut, menampar 1 kali, memutar tangan dan memukul dada korban. Mengakibatkan memar dan kemerahan berdasarkan hasil Visum Et Repertum Nomor : 358 / PKM-ML / XI / 2021, tanggal 04 November 2021, yang mana tidak menyebabkan halangan untuk melaksanakan pekerjaan. Dan perbuatan tersangka sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 351 Ayat (1) KUHPidana (Ancaman Pidana Penjara 2 (dua) tahun 8 (delapan) bulan).**

Pewarta indigo99.com : Adji

Berita Terkait

DKP Sulbar Terus Kembangkan Pembenihan dan Pembesaran Lobster
Diduga Bom Ikan Meledak, Nelayan Asal Kabuloang Mendapat Perawatan Serius
Gegara Bom Ikan Meledak Seorang Nelayan di Kabuloang Nyaris Tewas
2 Tahun Buronan Tersangka Korupsi, Seorang Kades di Polman Berhasil Diringkus Tim Tabur
Kecewa, Mahasiswa Universitas Wallecea Mamuju Segel Kampus
Peningkatan Nilai SPBE Tahun 2024
Pemilu 2024, Jatah Kursi PDIP di Sulbar Meningkat
Sabtu Besok, KPU Mamuju Gelar PSU di 3 TPS
Berita ini 337 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Februari 2024 - 16:22 WIB

DKP Sulbar Terus Kembangkan Pembenihan dan Pembesaran Lobster

Jumat, 23 Februari 2024 - 15:31 WIB

Diduga Bom Ikan Meledak, Nelayan Asal Kabuloang Mendapat Perawatan Serius

Jumat, 23 Februari 2024 - 09:41 WIB

Gegara Bom Ikan Meledak Seorang Nelayan di Kabuloang Nyaris Tewas

Kamis, 22 Februari 2024 - 10:27 WIB

2 Tahun Buronan Tersangka Korupsi, Seorang Kades di Polman Berhasil Diringkus Tim Tabur

Rabu, 21 Februari 2024 - 22:40 WIB

Kecewa, Mahasiswa Universitas Wallecea Mamuju Segel Kampus

Selasa, 20 Februari 2024 - 21:05 WIB

Pemilu 2024, Jatah Kursi PDIP di Sulbar Meningkat

Selasa, 20 Februari 2024 - 13:15 WIB

Sabtu Besok, KPU Mamuju Gelar PSU di 3 TPS

Selasa, 20 Februari 2024 - 10:30 WIB

Berhasil Ungkap Kasus OTT Hingga Narkoba, 2 Satker Diganjar Penghargaan

Berita Terbaru

Kabid Perikanan budidaya, mengunjungi lokasi pembenihan dan pembesaran lobster air tawar di Kelurahan Rimuku.(Foto/Ucok)

Advertorial

DKP Sulbar Terus Kembangkan Pembenihan dan Pembesaran Lobster

Jumat, 23 Feb 2024 - 16:22 WIB

error: Content is protected !!